Translate

Rabu, 17 Oktober 2012

KOMUNIKASI DALAM ORGANSASI


BAB I
PENDAHULUAN

Komunikasi dan persepsi sangat erat dan penting sekali diketahui guna memahami ilmu perilaku ini. Komunikasi terjadi jika seseorang ingin menyampaikan informasi kepada orang lain. Dan komunikasi tersebut dapat berjalan baik dan tepat dan jika penyampaian informasi tadi menyampaikannya dengan patut, dan penerima informasi menerimanya tidak dalam bentuk distorsi.
Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Persepsi adalah suatu proses kognitif yang konpleks dan yang menghasilkan suatu gambar unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dengan kenyataannya.
Adapun komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terdiri dalam suatu organisasi tertentu. Kalau dalam organisasi dikenal adanya struktur formal dan informal maka dalam komunikasinya yang kiranya juga amat penting dikemukakan sebagai unsur kontinum yang ketiga ialah komunikasi antar pribadi.










BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau “common” dalam bahasa inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita sama berusaha untuk mencapai kesamaan makna, “commonness”. Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan dan sikap kita dengan partisipan lainnya. Kendala utama dalam berkomunikasi adalah seringkali kita mempunyai makna yang berbeda terhadap lambang yang sama.[1]

B.     Klasifikasi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam komunikasi organisasi terdapat beberapa klasifikasi komunikasi diantaranya adalah sebagai berikut :[2]
1.      Komunikasi dilihat dari segi sifatnya
a.       Komunikasi Lisan yaitu menyampaikan informasi dan tanggapan secara langsung dengan berbicara
b.      Komunikasi Tertulis yaitu menyampaikan informasi dan tanggapan secara tertulis dengan menuliskan sebuah surat baik kepada penerima maupun pengirim pesan
2.      Komunikasi dilihat dari segi arahnya
  1. Komunikasi ke atas yaitu komunikasi yang dilakukan dari bawahan ke atasan dalam sebuah organisasi
  2. Komunikasi ke bawah yaitu komunikasi yang dilakukan dari atasan ke bawahan dalam sebuah organisasi
  3. Komunikasi setingkat yaitu komunikasi yang dilalakukan setara atau sesama anggota organisasi
  4. Komunikasi searah yaitu komunikasi yang hanya dilakukan satu arah saja tanpa danya feed bak atau timbal balik, biasanya komunikasi ini bersifat perintah
  5. Komunikasi dua arah yaitu komunikasi yang dilakukan 2 arah dan mengakibatkan adanya feed back atau tumbal balik
3.      Komunikasi menurut keresmiannya
a.       Komunikasi Formal yaitu komunikasi yang dilakukan secara resmi, contohnya adalah pada saat rapat
b.      Komunikasi Informal yaitu komunikasi yang dilakukan antar teman dan besifat biasa saja
C.    Persepsi dalam Komunikasi
Persepsi adalah dasar pengetahuan sekarang dan yang akan datang. Persepsi adalah kemampuan untuk mengumpulkan, membeda-bedakan, mengelompokkan dan memusatkan perhatian terhadap objek (kemampuan untuk mengorganisasikan pengamatan). Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.[3] Dengan demikian proses persepsi akan dapat mengatasi proses penginderaan. Dengan kata lain proses persepsi dapat menambah dan mengurangi kejadian senyatanya yang di indrakan oleh seseorang.
1.      Persepsi sebagai inti komunikasi
  1. Persepsi dapat didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna
  2. Persepsi adalah pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada di luar sana
  3. Persepsi meliputi penginderaan (sensasi) melalui alat-alat indera kita (yakni indera peraba, penglihat, pencium, pengecap, dan pendengar), atensi dan interpretasi.
  4. Sensasi merujuk kepada pesan yang dikirimkan otak lewat reseptor tubuh melalui alat indera kita.
2.      Persepsi sosial
Persepsi manusia terbagi dua yaitu persepsi terhadap objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia. Persepsi terhadap manusia lebih sulit dan konfleks, karena manusia bersifat dinamis.
Proses persepsi terhadap lingkungan sosial dihadapkan pada:
a.       persepsi terhadap orang adalah melalui lambang verbal dan nonverbal. Orang lebih aktif daripada objek dan lebih sulit diramalkan.
b.       Persepsi terhadap orang menanggapi sifat-sifat luar dan dalam (perasaan, motif, dan harapan)
3.      Persepsi dan pola perilaku
Dalam berpersepsi pun kita tidak cermat, sehingga timbullah kesalahan dalam berpersepsi. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Kita mempersepsi sesuatu dan seseorang sesuai dengan pengharapan kita. Banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana kita berpersepsi terhadap sesuatu, dan itu menjadi pola-pola yang berbentuk dalam perilaku sosial kita dalam kehidupan sehari-hari.

D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Persepsi Seseorang
1.      Psikologi
Persepsi seseorang mengenai segala sesuatu di alam dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi. Contohnya: terbenamnya matahari diwaktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai bayang-bayang yang kelabu bagi seseorang yang buta warna. Atau suara merdu Agnes Monica yang menyanyi lagu cinta, barangkali tidak menarik dan berkesan bagi seseorang yang sulit mendengar dan tuli.
2.      Famili
Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orangtua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus didalam memahami dan melihat kenyataan di dunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yang diturunkan kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu, tidak lain lagi kalau orangtuanya Mhammadiyah akan mempunyai anak-anaknya yang Muhammadiyah pula. Demikian pula seorang anak dalam kampanye mendukung Demokrat, karena orangtuanya Tokoh Domokrat tersebut.
3.      Kebudayaan
Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat didalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini. Contoh: Orang-orang Amerika bisa dengan bebas makan daging babi dan dianggapnya orang Indonesia yang taat tidak akan mau makan daging babi yang lezat untuk selama-lamanya.[4]

E.     Komunikasi dalam Organisasi
Keseluruhan faktor yang telah dibahas dalam hubungan dengan komunikasi antar pribadi juga berlaku untuk komunikasi dalam organisasi, yang juga mencakup penyampaian pesan secara akurat dari satu orang kepada orang lain. Selain faktor-faktor tersebut, struktur, wewenang, desain pekerjaan organisasi, dan lain-lain merupakan faktor-faktor unik yang turut berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi, sebagaimana dinyatakan oleh Simon (1977) bahwa “organisasi perlu untuk membantu manusia berkomunikasi”. Komunikasi yang terbuka dan efektif akan merupakan aset berharga bagi organisasi.
1.      Komunikasi Organisasi
Lesikar menguraikan adanya empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi organisasi yaitu meliputi:[5]
a.       Saluran komunikasi formal, merupakan cara komunikasi yang di dukung dan mungkin dikendalikan oleh manajer. Contohnya: newslatter, memo regular, laporan, dan rapat staff.
b.      Struktur wewenang, perbedaan status dan kekuasaan dalam organisasi membantu menentukan siapa yang akan berkomunikasi dengan enak kepada siapa. Selain itu, isi dan akurasi komunikasi juga dipengaruhi oleh perbedaan wewenang.
c.       Spesialisasi pekerjaan, biasanya akan mempermudah komunikasi dalam elompok yang berbeda-beda. Anggota suatu kelompok kerja biasanya memiliki jagron, pandangan mengenai waktu, sasaran, tugas dan gaya pribadi yang sama.
d.      Kepemilikan informasi, setiap individu mempunyai informasi yang unik dan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, yang merupakan semacam kekuasaan bagi individu-individu yang memilikinya.
2.      Komunikasi Vertikal
Terdiri dari komunikasi ke atas dan ke bawah melalui rantai organisasi. Dalam bebrapa perusahaan, tersedia saluran khusus sebagai sarana tambahan. Saluran ini banyak dipergunakan untuk memberi tahu manajer mengenai situasi yang melibatkan karyawan, seperti pernyataan tanpa bukti mengenai pelecehan seksual. Komunikasi ke bawah biasanya di saring, dimodifikasi, atau dihentikan di setiap tingkat ketika manajer memutuskan apa yang seharusnya diteruskan kepada karyawan mereka. Sedangkan komunikasi ke atas biasanya disaring, dipadatkan, atau diubah oleh manajer menengah yang melihatnya sebagai bagian dari pekerjaan mereka untuk melindugi manajer tingkat atas dari data yang tidak penting/relevan.[6]

3.      Komunikasi Lateral dan Informal
Komunikasi ini pada umumnya mengikuti pola arus pekerjaan dalam sebuah organisasi, terjadi antar anggota kelompok kerja, antar anggota departemen yang berbeda, dan antara lini dan staff. Tujuan utamanya adalah menyediakan saluran langsung untuk koordinasi dan memecahkan masalah. Dengan cara ini, dapat dihindari dengan prosedur yang jauh lebih lambat yaitu mengarahkan komunikasi lewat rantai komando. Keuntungan tambahan lainnya adalah anggota organisasi menjadi mampu untuk membentuk hubungan dengan rekan kerja.[7]














BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Persepsi adalah kemampuan untuk mengumpulkan, membeda-bedakan, mengelompokkan dan memusatkan perhatian terhadap objek (kemampuan untuk mengorganisasikan pengamatan). Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.
Keseluruhan faktor yang telah dibahas dalam hubungan dengan komunikasi antar pribadi juga berlaku untuk komunikasi dalam organisasi, yang juga mencakup penyampaian pesan secara akurat dari satu orang kepada orang lain. Selain faktor-faktor tersebut, struktur, wewenang, desain pekerjaan organisasi, dan lain-lain merupakan faktor-faktor unik yang turut berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi.













DAFTAR PUSTAKA

Amini. 2004. Perilaku Organisasi. Bandung: Citapustaka Media.
Handoko, T. Tani. Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Rivai, Veithzal dan Deddy Mulyadi. 2010. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: Rajawali Pers.
http://opickrockstar.wordpress.com/2011/04/23/komunikasi-dalam-organisasi/



[1] Amini, Perilaku Organisasi, (Bandung: Citapustaka Media, 2004), hlm. 99.
[2] http://opickrockstar.wordpress.com/2011/04/23/komunikasi-dalam-organisasi/
[3] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 326.
[4] Ibid., hlm. 327.
[5] T. Tani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, t.t.), hlm. 277.
[6] Ibid., hlm. 280.
[7] Ibid., hlm. 282.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar