Translate

Kamis, 13 Juni 2013

PENYUSUNAN ANGGARAN KAS



A.    Pengertian  Kas
Pengertian kas dari segi akuntansi adalah segala sesuatu (baik yang berbentuk uang atau bukan) yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya. Sedangkan pengertian kas menurut PSAK no.2, kas terdiri dari saldo kas, rekening giro, asset setara kas, investasi yang sangat mudah diuangkan tanpa mengalami resiko perubahan harga yang signifikan.[1]
B.     Pengertian Anggaran Kas
Menurut Lukman Syamsudin, dalam bukunya “Manajemen Keuangan Perusahaan” menyatakan bahwa:
“Anggaran kas adalah suatu alat yang dapat digunakan manajer keuangan untuk meramalkan atau memperkirakan kebutuhan-kebutuhan dana jangka pendek dan untuk mengetahui kekurangan atau kelebihan uang selama periode budget”.
Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa anggaran kas akan memiliki peranan yang penting dalam mengendalikan kas, dimana kegunaannya terutama untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menambah dana dari sumber-sumber intern dan sekaligus memperkirakan saldo kas pada setiap akhir tahun anggaran yang ditetapkan.
Dalam menjalankan suatu perusahaan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan, dibutuhkan suatu efektivitas pengendalian kas terhadap setiap perusahaan dalam kegiatan perusahaannya.
Dengan kata lain anggaran kas adalah gambaran atas seluruh rencana penerimaan dan pengeluaran uang tunai yang bertalian dengan rencana keuangan perusahaan dan transaksi lainnya yang menyebabkan perubahan-perubahan pada posisi kas atau menunjukkan aliran kas pada periode tersebut.

C.    Kegunaan Anggaran Kas
Secara umum semua anggaran termasuk anggaran kas mempunyai tiga kegunaan pokok yaitu sebagai berikut:
1.      Sebagai pedoman Kerja
2.      Sebagai alat pengkoordinasian kerja
3.      Sebagai alat pengawasan kerja
Adapun penjelasan dari kutipan diatas adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai pedoman Kerja
Berfungsi sebagai pedoman kerja yang memberikan arah serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan di waktu yang akan datang.
2.      Sebagai alat pengkoordinasian kerja
Berfungsi sebagai alat pengkoordinasian kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat dalam perusahaan dapat menunjang dan saling bekerjasama untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan.
3.      Sebagai alat pengawasan kerja
Berfungsi sebagai tolak ukur, sebagai alat pembanding untuk menilai (evaluasi) realisasi kegiatan perusahaan nanti dengan membandingkan apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan, dapat dinilai apakah perusahaan telah sukses bekerja atau kurang sukses bekerja. Dari perbandingan tersebut dapat pula diketahui sebab-sebab penyimpangan antara anggaran dan realisasinya.
D.    Tujuan Penyusunan Anggaran Kas
Dengan menyusun anggaran kas perusahaan akan mampu untuk:
1.      Menentukan posisi kas pada berbagai waktu, yaitu dengan memperbandingkan uang kas masuk dengan uang kas keluar. Sehingga saldo kas pada akhir suatu periode akan sama dengan saldo kas awal ditambah penerimaan-penerimaan kas pada suatu periode dan dikurangi pengeluaran-pengeluaran kas pada waktu yang sama.
2.      Memperkirakan kemungkinan terjadinya defisit atau surplus. Defisit terjadi bilamana pemasukan ditambah saldo awal ternyata lebih kecil dari kebutuhan pengeluaran yang harus dibayar. Sebaliknya surplus akan terjadi bilamana pemasukan melebihi pengeluaran, sehingga jumlah saldo akhir periode mengalami peningkatan. Terhadap kemungkinan defisit inilah perusahaan perlu lebih waspada.
3.      Mempersiapkan keputusan pembelanjaan berjangka pendek atau berjangka panjang. Dengan terjadinya defisit kas perusahaan perlu mencari dana tambahan dari sumber yang paling menguntungkan. Sebaliknya dengan adanya surplus yang diketahui lama sebelumnya, dapat dipersiapkan pemilihan alternatif penggunaan yang paling menguntungkan.
4.      Menggunakannya sebagai dasar kebijaksanaan pemberian kredit. Besar kecilnya kas yang tersedia juga menunjukkan kemampuan perusahaan membelanjai modal kerjanya. Kemampuan pembelanjaan modal kerja ini pada gilirannya juga merupakan dasar bagi perusahaan untuk menggunakan kebijakan kredit sebagai upaya meningkatkan volume penjualan.
5.      Menggunakannya sebagai dasar otorisasi dana anggaran yang disediakan. Sesuatu jenis biaya yang sudah dianggarkan perlu diatur penggunaannya lewat mekanisme otorisasi pengeluaran kas. Dengan demikian plafon anggaran tidak akan terlampaui dan sekaligus disesuaikan dengan keadaan likuiditas perusahaan
6.      Anggaran kas yang sudah ada juga berfungsi sebagai dasar penilaian terhadap realisasi pengeluaran kas yang sebenarnya. Dengan demikian varian dalam arus kas masuk maupun kas keluar dapat diketahui yang menjadi penyebabnya.

E.     Faktor-faktor Yang harus diperhatikan Penyusunan Anggaran Kas
Agar suatu anggaran kas dapat berfungsi baik, maka harus diperhatikan faktor-faktor yang diperhatikan penyusunan anggaran tersebut. Menurut Narumondang Bulan Siregar dalam bukunya yang berjudul ”Penyusunan Anggaran Perusahaan Sebagai Alat Manajemen Dalam Pencapaian Tujuan”, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran kas adalah sebagai berikut:
1.      Faktor-faktor penerimaan kas
2.      Faktor-faktor pengeluaran kas
      Adapun penjelasan dari kutipan diatas adalah sebagai berikut:
1.      Faktor-faktor penerimaan kas
a.       Anggaran penjualan, khususnya rencana tentang jenis (kualitas) dan jumlah (kuantitas) barang yang akan dijual dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang. Semakin besar jumlah penjualan akan memperbesar penerimaan kas.
b.      Keadaan persaingan di pasar, Persaingan yang lebih keras akan memperkecil pula penerimaan kas. Persaingan yang lebih lunak akan memungkinkan perusahaan memperbesar pula penerimaan kas.
c.       Posisi perusahaan dalam persaingan cukup kuat akan memperbesar penerimaan Syarat pembayaran (term of payment) yang ditawarkan perusahaan.
d.      Kebijaksanaan perusahaan dalam penagihan piutang. Penagihan piutang yang lebih aktif akan mempercepat penerimaan kas. Sedangkan sebaliknya, penagihan piutang yang kurang aktif akan memperlambat penerimaan kas.
e.       Budget perubahan aktiva tetap, khususnya rencana tentang pengurangan (penjualan) aktiva tetap.
f.       Rencana-rencana perusahaan tentang penerimaan-penerimaan kas dari sumber lain-lain (Non Operating), seperti misalnya penghasilan bunga, penghasilan sewa, penghasilan dividen, dan sebagainya.
2.      Faktor-faktor pengeluaran kas
a.       Budget pembelian bahan mentah, khususnya rencana tentang jenis (Kualitas) dan jumlah (kuantitas) bahan mentah yang akan dibeli dari waktu ke waktu selama Periode yang akan datang.
b.      Keadaan persaingan para supplier bahan mentah di pasar persaingan yang lebih keras akan memperkecil pengeluaran kas.
c.       Posisi perusahaan terhadap pihak supplier bahan mentah, Bilamana posisi perusahaan cukup kuat, maka perusahaan lebih dapat "memaksakan" pembelian secara kredit, sehingga akan memperkecil pengeluaran kas.
d.      Syarat pembayaran (term of payment) yang ditawarkan oleh supplier bahan mentah.
e.       Budget upah tenaga kerja langsung, Semakin besar upah tenaga kerja langsung yang akan dibayar, akan semakin besar pula pengeluaran kas yang akan dilakukan.
f.       Budget biaya pabrik tidak langsung, Semakin besar biaya pabrik tidak langsung yang harus dibayar, akan semakin besar pula pengeluaran kas yang akan dilakukan.
g.      Budget biaya administrasi, Semakin besar biaya administrasi yang harus dibayar, akan semakin besar pula pengeluaran kas yang akan dilakukan.
h.      Budget perusahaan aktiva tetap, khususnya rencana tentang penambahan aktiva tetap. Penambahan aktiva tetap memperbesar pengeluaran kas.
i.        Rencana-rencana perusahaan tentang pengeluaran-pengeluaran kas untuk keperluan lain-lain (Non operating), seperti misalnya untuk biaya bunga, biaya sewa, dan sebagainya.[2]

 F.     Prosedur Penyusunan Anggaran Kas
Menurut Agus Ahsyari dalam bukunya yang berjudul ”Anggaran Perusahaan Pendekatan Kuantitatif”, Prosedur penyusunan anggaran kas dapat ditinjau dari berbagai sudut yaitu sebagai berikut:
1.      Ditinjau dari pihak yang membuatnya:
a.       Otoriter (Top down)
b.      Demokrasi (Bottom Up)
c.       Campuran
2.      Ditinjau dari sudut menyusun anggaran:
a.       A Priori
b.      A Posteriori
c.       A Pragmatis
Adapun penjelasan kutipan diatas adalah sebagai berikut:
1.      Ditinjau dari pihak yang membuatnya, maka penyusunan anggaran kas dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Otoriter (Top down)
Dalam penyusunan anggaran dengan metode ini, anggaran disusun dan ditetapkan sendiri oleh pimpinan dan anggaran inilah yang harus dilaksanakan oleh atasan tanpa keterlibatan bawahan dalam penggunaannya. Bawahan tidak diminta keikutsertaannya dalam menyusun anggaran.
b.      Demokrasi (Bottom Up)
Dalam metode ini, anggaran disusun berdasarkan hasil keputusan karyawan. Anggaran disusun mulai dari bawahan sampai atasan. Bawahan diberikan kepercayaan menyusun anggaran yang akan dicapainya dimasa yang akan datang.
 c.       Campuran
Dalam metode ini perusahaan menyusun anggaran dengan memulainya dari atas dan kemudian untuk selanjutnya dilengkapi oleh karyawan bawahan.
2.      Ditinjau dari sudut menyusun anggaran, ada beberapa cara menyusun anggaran yang lazim, yaitu sebagai berikut:
a.       A Priori
Dalam metode ini, penyusunan anggaran dimulai dari penetapan angka laba yang diinginkan oleh perusahaan atau pemilik. Setelah laba ditetapkan maka semua pos yang berkaitan dengan upaya pencapaian laba ini baru dihitung dan direncanakan kemudian. Keuntungan dari metode ini yaitu karena laba ditetapkan terlebih dahulu maka bagian lain yang terkait dalam penciptaan laba ini diharapkan akan termotivasi untuk mencapai laba yang ditetapkan itu realistis. Sedangkan kerugian dari metode ini adalah dalam hal tertentu seolah cara ini tidak memperdulikan bagian-bagian yang lain sehingga dapat menimbulkan sikap apatis, stres, dan frustasi, apabila fasilitas yang dimiliki tidak mampu mencapai laba yang ditetapkan.
b.      A Posteriori
Dalam metode ini laba merupakan hasil akhir dari penetapan rencana kegiatan seperti penjualan atau produksi. Metode ini memiliki keuntungan dalam hal anggaran ini akan lebih akurat karena semua bagian terlibat. Biasanya bagian-bagian inilah yang lebih tahu atas batas kemampuan mereka. Sedangkan kerugian dari metode ini yaitu mungkin dalam prosesnya yang lebih lama.
c.       A Pragmatis
Dalam metode ini anggaran ditetapkan berdasarkan pengalaman masa lalu. Penetapan anggaran dilakukan secara ilmiah atau berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Metode ini lebih realistis jika kita lihat pengalaman yang lalu tetapi kurang melihat peluang masa depan.
G.    Pendekatan Penyusunan Anggaran Kas
Menurut  Ellen Christina et al (2001:188) ada dua pendekatan dalam menyusun anggaran kas, yaitu :
1.      Anggaran Kas Jangka Pendek
Anggaran ini merupakan alat operasional pengendalian kas sehari-hari. Jangka waktunya disesuaikan dengan anggaran tahunan. Anggaran kas jangka pendek sesuai dengan rencana laba taktis jangka pendek dan memerlukan rencana atau estimasi aliran kas masuk dan keluar yang rinci, yang secara langsung berkaitan dengan rencana laba tahunan. Sebagai contoh estimasi penerimaan kas dari penjualan dan estimasi pengeluaran kas untuk pembelian mesin-mesin dan peralatan baru. Anggaran kas seperti ini terutama berfungsi sebagai alat pemberian otorisasi kas keluar yang secara terus-menerus disesuaikan dengan arus kas masuk dan situasi keuangan pada umumnya.
2.      Anggaran Kas Jangka Panjang
Anggaran ini meliputi jangka waktu lima sampai sepuluh tahun yang disesuaikan dengan perencanaan perusahaan yang telah disusun. maka jangka waktu anggaran kas jenis ini disesuaikan dengan waktu yang tercakup di dalam corporate plan tersebut. Kegunaannya yang terutama adalah untuk mengetahui kemampuan perusahaan menambah dana dari sumber-sumber intern dan sekaligus memperkirakan saldo kas pada akhir setiap tahun anggaran

H.    Sumber dan Penggunaan Kas
Sumber kas masuk yang utama adalah:
  1. Hasil penjualan produk secara tunai.
  2. Hasil menagih piutang dagang.
  3. Pendapatan lain seperti bunga dari Bank, jasa giro, dividen.
  4. Adanya pengurangan pada aktiva tetap, seperti menjual aktiva yang tidak terpakai.
  5. Adanya penerimaan yang bukan penghasilan, seperti kredit dari Bank, penjualan obligasi dan lain-lain hutang jangka pendek
  6. Penambahan modal sendiri oleh pemilik.
Penggunaan kas keluar yang utama adalah:
  1. Berbagai pembayaran untuk keperluan operasional perusahaan sehari-hari seperti membeli material/bahan baku, membayar gaji, dan upah tenaga kerja, berbagai biaya yang termasuk sebagai biaya overhead pabrik (kecuali depresiasi/amortisasi yang tidak membutuhkan kas) biaya-biaya penjualan dan biaya administratif.
  2. Pembayaran pada para kreditur, baik berupa bunga maupun angsurannya.
  3. Penambahan berbagai aktiva tetap seperti pembelian aktiva tetap.
  4. Pembayaran pada pemilik modal, seperti pembayaran dividen atau pengembalian modal.
  5. Pembayaran pada pemerintah seperti membayar pajak, cukai, meterai, restitusi, Ipeda dan lain-lain.
Saldo kas pada akhir suatu periode (Bulanan/Triwulan/Tahunan) akan sama dengan saldo kas awal ditambah seluruh penerimaan dikurangi seluruh pengeluaran yang terjadi pada periode bersangkutan. Bilamana penerimaan melebihi pengeluarannya, maka saldo kas akhir akan meningkat. Sebaliknya bila pengeluarannya melebihi penerimaan, maka saldo kas akhir menurun, bahkan mungkin terjadi defisit kas.
Karena anggaran kas seperti yang diuraikan diatas disusun dengan memperkirakan seluruh penerimaan dan seluruh pengeluaran yang terjadi pada sesuatu periode, maka metode anggaran kas seperti ini disebut Metode Penerimaan dan Pengeluaran Kas (Cash Receipts and Distribursements Method).
Secara ringkas sumber kas masuk dan penggunaan kas keluar sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337548294331/anggaran-kas/sumber-dan-penggunaan-kas/SUMBER%20KAS%20EDIT.jpg
I.       Manfaat Laporan Sumber dan Penggunaan Kas
Laporan sumber dan penggunaan kas ini sangat penting, karena dapat dipergunakan sebagai dasar dalam merencanakan kebutuhan kas di masa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa yang akan datang.
Sedangkan bagi para kreditor atau bank dengan laporan cash flow ini akan dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar bunga.Selain itu kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan. Karena kas merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi likuiditasnya, sehingga semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya. Oleh karena itu, kas harus direncanakan dan diawasi dengan baik, baik penerimaannya maupun penggunaannya.
J.      Anggaran Kas Jangka Pendek
Anggaran kas jangka pendek umumnya disusun dengan cara menulusuri jejak berbagai kegiatan perusahaan yang mengakibatkan terjadinya arus fisik masuk dan arus fisik keluar. Arus balik dari jejak arus fisik yang masuk akan mengakibatkan terjadinya arus kas keluar. Demikian pula sebaliknya arus balik dari jejak berbagai arus fisik keluar akan mengakibatkan terjadinya arus kas masuk.
Skema berikut ini akan memberikan gambaran yang  jelas adanya berbagai keluar dan masuknya arus kas dan arus fisik.
Skema Arus Fisik dan Arus Kas
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337548527159/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/SKEMA%20ARUS%20KAS%20EDIT.jpg
Dalam skema tersebut terlihat adanya empat pihak  yang sekaligus  menjadi penyalur dana dan penerima dana. Mereka itu adalah:
  1. Perusahaan yang melaksanakan proses produksi barang/jasa sebagai pihak pertama dan pengambil inisiatif atas terjadinya keseluruhan arus kas dan arus fisik dalam keseluruhan sistem itu
  2. Para rekanan/pemilik faktor produksi; yang bergerak dalam pasaran faktor produksi dan pengambil inisiatif atas terjadinya keseluruhan arus kas dan arus fisik dalam keseluruhan sistem itu
  3. Konsumen/pembeli produk perusahaan merupakan pihak yang membutuhkan produk perusahaan untuk dikonsumsikan sendiri atau dijual kembali
  4. Pemilik dana/pemerintah adalah sebagai pihak yang mempercayakan modalnya untuk digunakan oleh perusahaan
Di antara keempat pihak yang membentuk sistem itu terjadilah arus fisik maupun arus kas  yang  merupakan  arus masuk maupun arus keluar di antara mereka satu sama lain. Arus fisik masuk terjadi pada saat perusahaan membeli berbagai faktor produksi yang dibutuhkannya, dan sebagai gantinya terjadi arus kas keluar pada saat perusahaan membayar faktor produksi yang digunakannya dalam proses produksi. Arus fisik keluar terjadi pada saat perusahaan berhasil menjual produknya pada pembeli/konsumen, sebagai gantinya terjadi arus kas masuk pada saat pembeli membayar harga pokok yang dibelinya. Arus kas masuk dan arus kas keluar yang terjadi diantara rekanan, perusahaan, dan konsumen membentuk transaksi rutin atau transaksi operasional yang sifatnya kontinu.
Di antara perusahaan, Pemilik Modal dan Pemerintah hanya terjadi arus kas masuk dan arus kas keluar. Arus kas masuk terjadi pada saat pemilik dan kreditur menyerahkan modalnya pada perusahaan sebagai penyertaan atau sebagai kredit, sedangkan arus kas keluar terjadi pada saat perusahaan membayar kewajiban dalam bentuk pajak,restitusi, bea meterai dan sebagainya pada Pemerintah. Transaksi ini disebut transaksi keuangan yang sifatnya terputus-putus (internittent).
Dengan memahami berbagai kegiatan yang terjadi diantara empat pihak inilah perusahaan akan mampu memperkirakan baik jumlah maupun waktu terjadinya arus kas masuk dan arus kas keluar, baik yang bersifat operasional maupun yang berupa transaksi keuangan. Hasil perekaman arus kas masuk dan arus kas keluar ini kita sebut anggaran kas.
K.    Contoh Kasus Anggaran Kas Jangka Pendek
Berikut ini adalah data yang dimiliki PT LARA yang dikumpulkan untuk melakukan penyusunan anggaran kas tahunan, pada semester 1 Tahun 20XX:
  • Rencana Penjualan selama semester 1 Tahun 20XX
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337548712534/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20ANG%20KAS%20JAPEN_RENC%20PENJU%20EDIT.jpg
  • Sejak beroperasi, perusahaan selain menjual secara tunai, juga menjual secara kredit. Adapun komposisi penjualannya adalah:
1.      Sebesar 60% dari total penjualan adalah penjualan tunai dan sisanya adalah penjualan kredit. Untuk penjualan tunai manajemen menetapkan akan memberikan potongan harga sebesar 10%.
2.      Untuk penjualan kredit; manajemen memberlakukan term of payment 5/10, n/60. Dari penjualan kredit diperkirakan sebesar 60%  akan memanfaatkan periode potongan, sedangkan sisanya tidak memanfaatkan periode potongan. Dari pembeli yang tidak memanfaatkan potongan, 50%-nya kaan membayar pada bulan transaksi dan sisanya akan membayar pada bulan berikutnya.
3.      Diperkirakan besarnya piutang tak tertagih (bad debt) adalah 5% dari penjualan kredit.
  • Besarnya Cash Opname awal Tahun 20XX adalah Rp 10.000.000,-
  • Perusahaan melakukan pembelian bahan baku yang merencanakan akan dibayar 30% secara tunai dan 70% dibayar bulan berikutnya. Adapun pembelian yang dilakukan adalah:
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337548822384/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20ANG%20KAS%20JAPEN%20PEMBELIAN%20EDIT.jpg
  • Hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan adalah januari Rp 2.500.000,- , Maret Rp 1.000.000,- ,dan Juni Rp 3.000.000,-
Dari data tersebut, diminta:
  1. Menyusun skedul pengumpulan piutang untuk triwulan 1 tahun 20XX. Sertakan persiapan perhitungannya.
  2. Menyusun skedul penerimaan kas untuk triwulan 1 Tahun 20XX.
  3. Menyusun skedul pengeluaran kas untuk triwulan 1 Tahun 20XX.
  4. Menyusun skedul kas sementara untuk triwulan 1 Tahun 20XX.
Penyelesaian Kasus : Anggaran Kas Tahunan (Jangka Pendek)
a.       Penjualan Menurut Bentuk Pembayaran & Skedul Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
PT LARA
Skedul Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Triwulan 1 Tahun 20XX
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337549026398/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20KAS%20JAPEN%20PENERIMAAN%20JUAL%20TUNAI%20EDIT.jpg
Keterangan Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai :
  1. Total penjualan : dari data Rencana Penjualan selama semester 1 Tahun 20XX
  2. Penjualan Tunai (60%): Total Penjualan x 0,6 (penjualan tunai 60%). Misal, pada bulan Januari (Rp 15.000.000 x 0.6= Rp 9.000.000).
  3. Potongan Penjualan Tunai (10%): Hasil dari penjualan Tunai x 0.1 (Pot. Penj. Tunai ). Misal, pada bulan Januari (Rp 9.000.000 x 0.1= Rp 900.000).      
  4. Penjualan Tunai Neto: Hasil dari penjualan tunai ˗ hasil dari pot.penjualan tunai.Misal, pada bulan Januari (Rp 9.000.000 – Rp 9.00.000= Rp 8.100.000).
  5. Penjualan Kredit (40%): Total penjualan x 0.4 (penjualan kredit 40%). Misal, pada bulan Januari (Rp 15.000.000 x 0.4 = Rp 6.000.000).
  6. Bad Debt (5%): Hasil dari penjualan kredit x 0.05 (bad debt 5%). Misal, pada bulan Januari (Rp 6.000.000 x 0.05= Rp 300.000).
  7. Piutang Neto: Hasil dari penjualan kredit – bad debt. Misal, pada bulan Januari (Rp 6.000.000 – Rp 300.000= Rp 5.700.000) .
b.      Skedul Pengumpulan Piutang / Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit
PT LARA
Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit
Triwulan 1 Tahun 20XX
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337549213128/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20KAS%20JAPEN%20PENERIMAAN%20JUAL%20KREDIT%20EDIT.jpg
Keterangan Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit:
  1. Piutang Neto didapat dari data pada Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
  2. Piutang yang mendapat hak discount (60%): Piutang Neto x 0,6 (hak discount). Misal, Pada bulan Januari (Rp 5.700.000 x 0,6= Rp3.420.000).
  3. Discount 5%: Piutang yang mendapat hak discount x 0.05 (discount). Misal, pada bulan Januari (Rp 3.420.000 x 0.05 = Rp 171.000).
  4. Piutang tidak mendapat discount (40%): Piutang neto x 0.4 (piutang tidak mendapat discount).  Misal, pada bulan Januari (Rp 5.700.000 x 0,4= Rp 2.280.000).
  5. Piutang yang tidak mendapat discount dilunasi: Hasil dari piutang tidak mendapat discount x 0,5 (pelunasan 50%).Misal, pada bulan Januari (Rp 2.280.000 x 0.5= Rp 1.140.000).
  6. Total Pengumpulan Piutang: Piutang neto + piutang tidak mendapat discount. Misal, pada bulan Januari (Rp 3.249.000 + Rp 1.140.000= Rp 4.389.000).
c.       Anggaran Penerimaan Kas
PT LARA
Anggaran Penerimaan Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337549968027/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20KAS%20JAPEN%20ANGGARAN%20PENERIMAAN%20KAS%20EDIT.jpg

Keterangan Anggaran Penerimaan Kas:
  1. Penjualan Tunai Neto (dari data Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai)
  2. Piutang (dari data Penerimaan Kas dari Penjualan Kredit)

d.      Anggaran Pengeluaran Kas
PT LARA
Anggaran Pengeluaran Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337550081750/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20KAS%20JAPEN%20ANGGARAN%20PENGELUARAN%20KAS%20EDIT.jpg
Keterangan Anggaran Pengeluaran Kas:
  1. Pembelian bahan baku tunai: Data pembelian bahan baku x 0,3 (dari perencanaan pembelian bahan baku 30% secara tunai). Misal, pada bulan Januari (Rp 5.000.000 x 0,3 = Rp 1.500.000)
  2. Pembelian bahan baku kredit: Data pembelian bahan baku x 0,7 (dari perencanaan pembelian bahan baku 70% secara kredit dibayar bulan berikutnya). Misal, pada bulan Februari (Rp 5.000.000 x 0,7 = Rp 3.500.000)
  3. Pembayaran hutang: Data didapat dari soal bahwa Januari sebesar Rp 2.500.000 , Maret Rp 1.000.000 , dan Juni Rp 3.000.000.
 e.       Anggaran Kas
PT LARA
Anggaran Kas
Triwulan 1 Tahun 20XX
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337550172810/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-pendek/KASUS%20KAS%20JAPEN%20ANGGARAN%20KASEDIT.jpg
Keterangan Anggaran Kas :
  1. Kas tersedia: Saldo kas awal + penerimaan kas. Misal, pada bulan Januari (Rp 10.000.000 + Rp 12.489.000 =Rp22.489.000)
  2. Saldo kas akhir: Kas tersedia – pengeluaran kas. Misal, pada bulan Januari (Rp 22.489.000 – Rp 4.000.000 = Rp 18.489.000)
L.     Anggaran Kas Jangka Panjang
Bila anggaran kas tahunan disusun dengan cara menelusuri jejak arus fisik masuk dan arus fisik keluar, maka anggaran kas jangka panjang disusun dengan cara membandingkan neraca yang disusun antara dua periode anggaran dan perhitungan rugi laba perusahaan yang terjadi selama periode antara kedua neraca tersebut.
Untuk anggaran kas jangka panjang ini sesuai dengan dimensi waktu dari pengeluaran modal dan rencana laba strategik jangka panjang. Estimasi penerimaan kas (terutama dari penjualan barang atau jasa dan pinjaman), sedangkan estimasi pengeluaran kas adalah terutama untuk biaya-biaya, pengeluaran modal dan pembayaran hutang,yang merupakan dasar yang tepat untuk keputusan-keputusan yang berkaitan dengan keuangan.
Secara hipotesis neraca suatu perusahaan adalah sabagai berikut;
Neraca
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337551316998/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-panjang/KAS%20NERACA%20EDIT.jpg
Suatu konsep neraca yang paling awal yang menyatakan bahwa neraca selalu seimbang jumlah kekayaan perusahaan  sama dengan jumlah  modal yang dimiliki ditambah hutang-hutangnya
Misalkan Selama satu tahun usaha terjadi transaksi sebagai berikut ini:
  1. Perusahaan memperoleh laba dan memakai sebagian dari laba ini
  2. Perusahaan memperoleh hutang lancar baru
  3. Perusahaan menambah hutang jangka panjang
  4. Perusahaan menambah setoran  modalnya
  5. Perusahaan mengurangi sebagian dari aktiva lancar  non kas (seperti piutang dan persediaan) 
  6. Perusahaan menjual sebagian dari aktiva tetapnya
Dengan transaksi-transaksi diatas maka akibat  yang  terrjadi adalah:
  1. Meningkatnya jumlah modal dan hutang-hutang perusahaan
  2. Menurunnya jumlah aktiva non kas dan aktiva tetap yang dimiliki
  3. Meningkatnya seluruh kekayaan perusahaan yang tercermin dalam meningkatnya jumlah uang kas
Pendekatan seperti diatas berdasarkan suatu anggapan bahwa seluruh transaksi yang terjadi adalah transaksi kas. Berbagai transaksi yang menyebabkan meningkatnya/menurunya jumlah kas yang dipolakan sebagai berikut:
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/_/rsrc/1337551507862/anggaran-kas/anggaran-kas-jangka-panjang/KAS%20POLA%20NAIK%20TURUN%20EDIT.jpg




[1] http://file.upi.edu/Direktori/FPEB/PRODI.AKUNTANSI/196510122001121-IKIN_SOLIKIN/Konsep_dasar_penyusunan_anggaran.pdf
[2] M. Munandar, Budgeting, (yogyakarta: BPFE) hal. 290.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar