Translate

Sabtu, 10 Maret 2012

Landasan Psikologis, Sosiologis, Kultural dan Filosofis


A.   Landasan Psikologis
  1. Latar Psikologis
Sejak masa konsepsi sampai mati manusia mengalami perubahan (pertumbuhan dan perkembangan) baik dibidang jasmani maupun rohani. Proses perkembangan itu terjadi terus menerus secara teratur dan menuju ke arah kemajuan. Setiap fase pertumbuhan anak terjadi peningkatan kecakapan dan kemampuan. Untuk membimbing anak ke arah kesempurnaan dibutuhkan seorang pendidik, pendidik harus memiliki pengetahuan tentang kejiwaan anak agar usaha pendidikan itu menemui sasaran dan berdaya guna.
Ada lima faktor yang perlu mendapat perhatian untuk memahami pribadi anak, yaitu sebagai berikut:
a.      Keturunan (Heredity)
Anak mendapat sifat-sifat pembawaan dari orang tuanya mulai pada masa konsepsi yaitu pada masa adanya proses perubahan sel telur oleh sel jantan. Sifat-sifat tersebut merupakan potensi yang membutuhkan pemunculan dan pengembangan selanjutnya. Sifat-sifat atau ciri-ciri yang diwariskan itu sebagian besar dari orangtuanya dan sebagian kecil dari kakek-kakek / nenek-neneknya.
b.      Lingkungan (Environment)
Lingkungan ini pada garis besarnya dibagi kepada lingkungan yang bersifat fisik dan yang bersifat sosial yang ada sejak dalam kandungan. Keadaan dan kondisi sang ibu serta makanan yang diterima anak melalui ibu akan menentukan kelangsungan anak. Situasi dan kondisi lingkungan akan sangat mewarnai pribadi dan tingkah laku anak. Anak akan terpengaruh dengan tata cara orang atau manusia yang ada disekitarnya, sehingga tingkah laku anak merupakan gambaran atau pencerminan dari masyarakat dimana ia hidup dan berkembang.
c.       Faktor diri anak (Self)
Kehidupan kejiwaan anak tidak boleh diabaikan, ia merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam proses kependidikan. Dengan kata lain memahami self atau pola hidup seseorang anak dapat membantu untuk memahami bagaimana kepribadian anak itu sebenarnya, sehingga keadaan ini dapat membantu kelancaran proses pendidikan.
d.      Perbedaan kecerdasan
Setiap anak tidak sama kecerdasannya sekalipun sia kelendernya sama. Kecerdasan seseorang dapat dibedakan sebagai berikut:
1)      IQ 140 ke atas => jenius
2)      IQ 130 – 139 => sangat pandai
3)      IQ 120 – 129 => pandai
4)      IQ 110 – 119 => diatas normal
5)      IQ 90 – 109 => seang (normal)
6)      IQ 80 – 89 => dibawah normal
7)      IQ 70 – 79 => bodoh
8)      IQ 50 – 69 => feeble minded atau debil
9)      IQ 30 – 49 => embicite
10)  IQ < 30 => idiot
e.      Ciri-ciri tertentu
Untuk lebih mudah meneliti ciri-ciri anak dalam tahap perkembangannya, dapat digolongkan sesuai tingkah sekolah anak itu sendiri.

  1. Landasan Psikologis
Psikologi telah menyediakan sejumlah informasi tentang pribadi manusia pada umumnya. Serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi. Setiap individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan, demikian pula tempo dan irama perkembangan yang berbeda antara seorang dengan yang lainnya.
Individu yang satu dengan yang lainnya, perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antara individu itu sendiri, baik yang berhubungan dengan bakat, intelek, maupun perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan serta cita-cita, aspirasi dan kepribadian secara keseluruhan. Manusia dilahirkan dengan memiliki sejumlah potensi dan kemampuan yang harusa dikembangkan, kebutuhan yang harus dipenuhi sesuai dengan kemampuan mereka menerimanya.
Secara umum manusia membutuhkan berbagai macam kebutuhan, yaitu:
a.       Kebutuhan psikologis
b.      Kebutuhan rasa aman
c.       Kebutuhan akan cinta dan pengakuan
d.      Kebutuhan harga diri
e.       Kebutuhan untuk aktualisasi diri
f.        Kebutuhan untuk mengetahui dan memahami
Alexander mengemukakan ada tida faktor uta yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian, yaitu:
a.       Bakat/hereditas individu
b.      Pengalaman awal di keluarga
c.       Peristiwa penting dalam hidupnmya diluar lingkungan keluarga.

B.   Landasan Sosiologis
  1. Latar Sosiologis
Salah satu tujuan sekolah adalah untuk membekali anak agar ia mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna, karena sekolah telah memiliki peralatan dan tenaga personil serta sarana dan prasarana lainnya untuk membekali dan menginternalisasi nilai pada diri anak. Sekolah atau pendidikan formal merupakan sub sistem sosial, maka sekolah dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.
Perubahan dalam konsepsi dan tujuan pendidikan merupakan akibat yang ditentukan oleh atau sebagai usaha perubahan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan atau tujuan hidup manusia. Keadaan demikian adalah merupakan kewajaran akibat perkembangannya serta semakin kompleksnya tuntutan zaman. Dalam hal ini pendidikan itu juga adalah kegiatan sosial dan juga  lembaga pendidikan adalah lembaga sosial.
Anak dalam keluarga juga dalam sekolah dan masyarakat telah berhadapan dengan siatuasi dan kondisi yang terkadang tidak sesuai dengan usia mereka, dan dapat memaksa perkembangan aspek tertentu dari kehidupan psikolognya.
Perubahan drastis dalam perkembangan dunia, seperti teknologi yang begitu maju dihadapkan kepada anak, sehingga dalam hal ini sekolah harus pula mempersiapkan konsep yang sesuai dengan perkembangan zaman, terutama apabila dihadapkan kepada lapangan kerja yang menuntut anak didik harus mampu dan siap pakai untuk menerima dan mengelolanya.
Faktor sosial bisa menentukan kemajuan dan kemunduran belajar, baik itu dalam sekolah atau diluarnya seperti kondisi keluarga, tuntutan guru, bakat anak, kebudayaan kelompok masyarakat, dan juga pribadi tertentu sebagai identifikasi anak. Faktor bakat, ciri-ciri atau karakter anak serta minatnya akan menetukan tinggi rendahnya motivasi belajarnya, maka sekolah harus mampu menengani kenyaaan ini, terkadang anak dalam satu kelas patut dibagi-bagi kepada beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan mereka menerima bahan bidang studi.
Di samping itu faktor keadaan keluarga anak juga menjadi masalah, seperti tingkat status sosial keluarga, jumlah saudara, keadaan ekonomi, pola hidup keluarga, dan sikap orang tua terhadap pendidikan.
Faktor kelompok sebaya juga dapat menentukan maju mundurnya perkembangan pendidikan anak disekolah, seperti kegiatan-kegiatan kelompok yang tidak paedagogis, keadaan ini akan dapat mengurangi dan dapat menghambat akademik disekolah.
Di samping itu bahan pelajaran turut menentukan kemajuan dan kemunduran anak di sekolah. Banyak dan sedikitnya bahan akan dapat mempengaruhi minat anak, dan juga bahan-bahan yang terlalu jauh dari perkembangan anak, demikian pula minat akan dapat mempengaruhi motivasi belajar akan anak itu sendiri.
Demikian pula faktor kemajuan sekolah berhubungan erat dengan kemajuan sosial dimana sekolah itu berada, karena keadaan sosial akan memberi pengaruh kepada kelas disekolah tersebut. Lingkungan sosial yang terdiri dari keluarga-keluarga yang berbeda status ekonomi (ada yang kuat ada yang lemah), dan juga pemerintah setempat sedikit banyaknya akan mempengaruhi sekolah, apalagi dana untuk itu bersumber dari masyarakat dan pemerintah.

  1. Landasan Sosiologis
Pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebt, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.
Masyarakat indonesia adalah sebagai landasan sosiologis dalam pendidikan. Masyarakat adalah sekelompok orang yang berinteraksi antar sesama, adanya saling tergantung dan terikat oleh norma dan nilai yang dipatuhi bersama, menempati suatu wilayah dan saling bersosialisasi. Masyarakat sebagai suatu kesatuan hidup memiliki ciri utama, yaitu:
a.       ada interaksi antar bangsa
b.      pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma hukum dan aturan-aturan yang khas.
c.       Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya.
Masyarakat indonesia adalah masyarakat majemuk, dan telah banyak mengalami perubahan, komunitasnya memiliki karakteristik unik baik secara horizontal maupun vertikal. Melalui berbagai jalur pendidikan termasuk jalur pendidikan sekolah atau formal, diupayakan untuk menumbuhkan persatuan dan kesatuan bangsa seperti pendidikan moral pancasila atau PPKN dan sebagainya.

C.   Landasan Kultural
Pendidikan tidak mungkin terpisah dari manusia, ia selalu terkait dengan manusia, dan setiap manusia menjadi anggota masyarakat dan pendukung budaya tertentu. Kebudayaan sebagai gagsan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu selalu terkait dengan pendidikan utamanya belajar.
Kebudayaan dalam arti luas dapat terwujud:
a.       Ideal, seperti ide, gagasan, nilai dan sebagainya
b.      Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
c.       Fisik, yakni benda hasil karya (Koentjraningrat, 1975)
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan dan dikembangkan melalui pendidikan baik kebudayaan yang berwujud ideal atau kelakuan maupun teknologi (hasil karya).
Pada dasarnya ada tiga yang sifatnya umum yang dapat diidentifikasikan dalam menurunkan kebudayaan kepada generasi mendatang, yaitu melalui pendidikan informal (biasanya terjadi di dalam keluarga), non formal (dalam masyarakat secara trprogram dan berkelanjutan serta berlengsung dalam kehidupan masyarakat), dan formal (melibatkan lembaga khusus sekolah) yang dirancang untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Transmisi kebudayaan oleh masyarakat tidak akan memperoleh kemajuan, sehingga perlu dirancang usaha yang sistematis dalam mengembangkan kebudayaan, dalam hal ini yang paling efektif ialah lembaga sekolah.
Kebudayaan nasional sebagai landasan pendidikan nasional adalah bahwa masyarakat indonesia sebagai pendudkung kebudayaan masyarakat mejemuk, maka kebudayaan indonesia lebih tepat disebut dengan kebudayaan nusantara yang beragam. Keragaman sosial budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat istiadat, tata cara, dan tata krama pergaulan, kesenian, bahasa, dan sastra daerah di suatu daerah tertentu sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan.

D.   Landasan Filosofis
  1. Latar Keharusan
Pelaksanaan proses pendidikan terhadap anak didik karena ia mutlak membutuhkan pendidikan, membutuhkan bantuan dan pertolongan untuk membawanya ketingkat kedewasaan dalam arti dewasa dalam pendidikan.
Keharusan mendidik anak itu diterangkan oleh Langeveld, katanya manusia merupakan hewan atau makhluk yang harusa dididik, oleh karena jika manusia tidak dididik, maka sangat kecil sekali kemunkinannya ia dapatmenjadi manusia seperti yang diharapkan yaitu manusia yang berkebudayaan.
Pelaksanaan pendidikan adalah usaha sadar yang sistematis-sistematik yang selalu bertolak dari sejumlah landasan dan asas.

  1. Landasan Filosofis
Tinjauan filosofis tentang sesuatu berarti berpikir bebas serta merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang sesuatu. Dalam hal ini termasuk pendidikan artinya proses pelaksanaan pendidikan itu tidak berjalan secara kebetulan, akan tetapi ia mempunyai landasan yang salah satu diantaranya ialah landasan filosofis.
Landasan filosofs dari pendidikan adalah landasan yang berdasarkan atau bersifat filsafat/falsafat. Landasan filosofis dari pendidikan ialah landasan yang berkaitan dengan makna dan hakekat pendidikan, yang berusaha mengkaji dan menelaah masalah-masalah poko dari pendidikan, seperti apakan pendidikan itu, mengapa pendidikan itu diprelukan, apa yang seharusnya menjadi tujuannya dan sebagainya.
Peran filsafat dalam pendidikan berkeitan dengan hasil kajian antara lain:
a.       Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai makhluk di dunia ini, seperti yang disimpulkan sebagai zoon politicon, homo sapien, animal educandum dan sebagainya.
b.      Masyarakat dan kebudayaan
c.       Keterbatasan manusia sebagai makhluk yang banyak mengghadapi tantangan
d.      Perlunya landasan dalam pekerjaan pendidikan, utamanya landasan pendidikan.
Filsafat pancasila adalah sebagai landasan filosofis pendidikan indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD Nagara RI 1945. jika dilihat pada penjelasan UU-RI No. 2 Tahun 1989, yang menegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk di bidang pendidikan adalah pengamalan Pancasila. Menurut ketetapan MPR-RI No. II Tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) menegaskan pula bahwa Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia dan dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila segala sumber dari segala gagasan menenai wujud manusia dan masyarakat yang dianggap baik, sumber dari segala sumber nilai yang menadi pangkal serta muara dari setiap keputusan dan tindakan dalam pendidikan, dengan kata lain Pancasila sebagai sumber sistem nilai dalam pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar